Home » , , » Murad, Anak Cerdas dari Bukit Duabelas

Murad, Anak Cerdas dari Bukit Duabelas

Ditulis oleh Petisi News pada Rabu, 17 Juni 2015

TAHUN ajaran baru yang bertepatan dengan bulan ramadhan ini, saya coba berbagi kisah tentang seorang anak yang menjadi motivator keluarga dan komunitasnya dalam pendidikan dan agama. Pergulatan lahir dan batin seorang Tumenggung yang berani mengambil sikap dengan segala konsekuensi. Menjadi Islam, menetap, berpendidikan, bukan berarti merusak tatanan tradisi leluhur. Justru sebaliknya, harus menguatkan masyarakat, menyempurnakan kebutuhan lahir dan batin diri sendiri serta lingkungan.
Murad, Anak seorang Tumenggung Rimba Kejasung Besar, Bukit 12, bukan cuma terbukti mampu bersaing di tengah-tengah masyarakat umum atau desa. Tetapi prestasi yang sudah ia raih tetap membuatnya rendah hati, terus belajar dan tak tak kenal putus asa.
Struktur sosial pada komunitas Orang Rimba atau Suku Anak Dalam, Bukit 12, Jambi, Tumenggung bukan saja seorang pemimpin di tengah masyarakatnya, tapi juga menjadi aktor penting perubahan yang terkait dengan masyarakat dan wilayah, penentu kebijakan baik dalam memastikan pelaksanaan aturan adat (internal), maupun hubungan dengan para pihak diluarnya (ekternal). Secara struktural dan fungsi, Tumenggung di bantu oleh seorang Wakil, Depati, Mangku, Menti, Anak Dalam, Debalang Bathin, Tengganai dan Kepalo Adat.
Saat ini, rasanya hanya di wilayah Bukit 12 kita masih menemukan struktur utuh sosial Orang Rimba atau Suku Anak Dalam seperti di atas. Di wilayah yang lain struktur memang masih ada tapi rata-rata tidak seutuh di Bukit 12 lagi, antara lain disebabkan oleh penyesuaian kebutuhan dan perkembangan yang ada di wilayah tersebut, atau karena hal lainnya.
Inilah kisahnya
Sebelum masuk sekolah dasar, Murad dititipkan kepada Pak Qohari yang tinggal di Desa Rawa Mekar, Kecamatan Marosebo Ulu, Kabupaten Batanghari untuk belajar mengaji. Murad tidak sendirian, dia ditemani oleh empat saudaranya yang lain, bersama-sama tinggal di rumah Pak Qohari. Murad dan adik-adiknya dijaga oleh abang kandungnya yang biasa dipanggil Dedi, proses ini berjalan sekitar 2 tahun.
Orang Tua Murad bernama Jelitay adalah seorang Tumenggung Orang Rimba atau Suku Anak Dalam wilayah Kejasung Besar, Bukit 12. Sedangkan Pak Qohari bagi masyarakat desa Rawa Mekar lebih akrab dipanggil dengan sebutan Pak Ustad, selain menjadi guru mengaji, Pak Qohari juga Imam besar masjid yang ada di desanya, dan kerap menjadi juri Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ) di tingkat kecamatan dalam Kabupaten Batanghari.
Setelah menitipkan anaknya pada pak Ustad Qohari di desa, Tumenggung bersama istri kembali ke kampung halamannya di Kejasung Besar, Bukit 12. Kejasung Besar secara administrasi adalah daerah perbatasan tiga kabupaten dalam Provinsi Jambi, yaitu Sarolangun, Tebo dan Batanghari. Di wilayah ini mereka sudah turun temurun hidup dan berkembang menjalani tradisi leluhur melalui berhuma, berladang, berburu, memanfatkan hasil hutan nonkayu untuk kebutuhan pangan dan ekonomi.
Waktu terus berjalan, setahun kemudian Tumenggung menjenguk anak-anaknya untuk melihat perkembangan mereka. “Rugi Gung, kalo pendidikan anak-anak tidak dilanjutkan, semuonyo balik pado tumenggung, yang penting ngaji jangan dilupo” Begitulah kata pak Qohari sebut Tumenggung kala itu.
Tumenggung akhirnya mendaftarkan Murad ke SDN No.195/Idi Rawa Mekar yang resmi menjadi desa pada bulan ini. Dia pun rela menunggu setahun lagi untuk melihat perkembangan Murad di sekolah dasar dan hasilnya mengembirakan, Murad berhasil mendapat juara umum di kelasnya.
Sebelumnya atau sekitar tahun 2009-2010, Dedi, Nganing, Murad dan Laru, diislamkan melalui sunat bareng di desa, di susul oleh Qodrat karena permintaan orang tuanya, Maris setahun kemudian.
Melihat anak-anaknya sudah beragama Islam, tinggal menetap di desa, punya prestasi dalam pendidikan dan agama,Tumenggung kemudian berembuk dengan sang istri. “Jika tidak satu iman dengan anak bagaimana nanti kita mati? Mereka tidak bisa mbantu, pemakan dan peminum kita beda” ujar Temenggung.
“Menjadi Islam bukan pekaro mudah, harus betul-betul yakin dari hati dulu, bukan cuma makan dan minum bae yang harus dirubah, prilaku jugo, yang harus di islamkan terlebih dulu adolah hati, baru badan diri”.
“Awalnyo kami ragu kereno dak dikit orang rimbo (suku anak dalam) yang meluk islam tapi balik ke rimbo lagi, orang rimbo pada saat bujang sebenarnyo banyak yang meluk islam, tapi ketiko kawin (ber-istri) dikampung dio balik lagi pado keyakinan lamo, belum kuat pado hati” kata Tumenggung menjelaskan.
Meyakinkan keragu-raguan istri berlangsung selama bertahun-tahun. Beliau juga harus membagi konsentrasi kepada empat anaknya yang sudah Islam dan belajar di desa. Waktu dan energi yang dikeluarkan cukup besar, karena dari kejasung besar menuju desa harus ditempuh berjalan kaki selama satu hari. Kenyataan ini mau tak mau harus dilakukan bertahun-tahun.
Seperti Tuhan sudah berkehendak, ketika naik ke kelas dua, Murad kembali berhasil mendapat juara di kelasnya. Sedangkan Laru, adiknya berhasil pula mendapatkan penghargaan di Madrasah. Situasi ini bukan cuma penghilang lelah psikologis Tumenggung dan istri, sekaligus menjadi pompa yang kuat bagi hati mereka untuk memeluk Islam dengan segala konsekuensi.
“Alhamdulilah, sejak tahun 2010 sampai dengan kini, sayo, bini dan anak-anak meluk Islam dan tinggal di desa, dak teraso tahun iko Murad sudah naik kelas limo, dan dapat juara umum lagi. Alhamdulillah dari kelas satu sampai kini dio juaro terus, ” kata Temenggung dengan nada bangga.
Harapannya terhadap Murad, Laru dan anak-anak yang lain tidaklah banyak, semoga menjadi ujung tombak bagi masyarakat dalam pendidikan dan agama. Menjadi Islam, menetap, berpendidikan, bukan berarti merusak tradisi adat leluhur. Justru sebaliknya, untuk menguatkan masyarakat, menyempurnakan kebutuhan lahir batin, baik itu diri sendiri, masyarakat dan lingkungan. (willy azan/jambibagus.com)
Bagikan Berita :

Posting Komentar

 
Cyber Media Petisinews.com : Tentang Kami | Redaksional | Tarif Iklan
Copyright © 2015. Petisinews.com - Kritis Profesional
Dipublikasikan oleh CV. ADZAN BANGUN PERSADA Cyber Media Petisi News
Wartawan Petisinews.com Dibekali Tanda Pengenal dalam Menjalankan Tugas Redaksi | Box Redaksi