Home » » Tradisi Batandang di Kerinci (Bagian 1) Oleh: Budhi Vrihaspathi Jauhari

Tradisi Batandang di Kerinci (Bagian 1) Oleh: Budhi Vrihaspathi Jauhari

Ditulis oleh Petisi News pada Senin, 29 Juni 2015

Dimasa lalu   kaum muda mudi di alam  Kerinci memanfaatkan rangkaian upacara tradisional sebagai wanaha untuk memilih dan mencari tambatan hati, dalam dialeg daerah menjajaki  dan mencari calon  istri/suami  disebut “nalak pamudou” atau “nalak sakire” yang dimasa kini lebih akrab disebut mencari  calon sang kekasih tambatan hati.  Dalam suasana  keramaian di malam hari menjelang puncak acara upacara tradisional bersenandung atau betale bersama  dengan cara berbalas pantun dan terkadang di penghujung  menjelang larut malam  mereka  menari bersama tari tarian khas suku Kerinci.  Jika  masing masing pihak telah menemui pasangan yang serasi, maka sang perjaka  mengajak pasangannya untuk menari, berbalas pantun dengan cara melantunkan tale tale tentang cinta,atau menari tari tauh atau tari rantak kudo.  Pada hari hari berikutnya setelah kedua sejoli menemukan cintanya, langkah awal dilanjutkan dengan tradisi”Nyubeouk”  yang dimaksud tradisi nyubeouk ialah sang jejaka  menyerobot pekerjaan calon kekasih  yang tengah bekerja  di sawah, sang jejaka mengambil alih pekerjaan  calon kekasih,kedua sejoli yang mulai  merasakan getaran getaran cinta secara bersama  melanjutkan pekerjaan sambil bertale  dengan nyanyian nyanyian cinta dalam bentuk  berbalas pantun.  Tat kala cinta mulai tumbuh bersemi, pada malam hari sang jejaka  mendatangi kediaman sang pujaan hati, kedatangan sang  jejaka pada malam hari  di rumah pujaan hati dikenal dengan istilah”batandang” ke rumah sakire/pamudou.  Dengan diawasi oleh ibunda dari balik bilik sang jejaka  dengan cara halus  menggunakan bahasa pantun menyampaikan hasrat hati, tak jarang pada saat itu terjadi dialog  dan  mereka juga bertale dengan tale talea cinta .  Tat kala  kedua hati semakin  berpadu dan rasa cinta semakin melekat di hati,  setelah kedua sejoli menyepakati tentang cinta nya , maka beberapa waktu kemudian  biasanya dalam kurun waktu paling lama  sang jejaka  menyampaikan ungkapan rasa cintanya kepada ayahanda dan ibunda.  Untuk mewujudkan mahligai cinta dalam bentuk menyatukan  antara dua hati yang menyatu, maka kedua orang tua  menyampaikan hasrat hati si buah hati kepada saudara laki laki dari ibunda yang lazim disebut tengganai.  Manakala  kedua orang tua dan tengganai sudah seiya sekata,  maka tengganai pihak pria  menemui tenggana  pihak panitia, kegiatan pertemuan ini disebut  temu tengganai,  dalam hal ini pihak yang meminang adalah dari keluarga  laki laki, sedangkan yang di pinang adalah pihak perempuan.  Pertemuan pihak tengganai pria dengan pihak tengganai wanita  merupakan babak awal yang menentukan langkah langkah menuju mahliga cinta.  Setelah kesepakatan  antara kedua tengganai  bersama kedua orang tua  dicapai, langkah selanjutnya dilaksanakan acara temu ahak yang pada intinya bertujuan untuk merumuskan secara bersama sama  jadwal pernikahan dan acara kenduri peresmian.  Sejak kesepakatan ini diperoleh, maka  sang pujaan hati tidak lagi dapat sesuka hati keluar rumah atau ngelinjang kerumah orang lain kecuali kerabat dekat, biasanya  calon mempelai wanita di pingit/dibatasi untuk keluar rumah.  Pada masa pemingitan itulah  ibunda  atau tino/nungguh dan datung  memberikan petuah dan nasehat  serta memberikan bekal  tentang  cara menghadapi suka dan duka  saat berlayar  dalam  bahtera rumah tangga  menuju ke abadian cinta.  Detik detik kesepakatan cinta di sepakati oleh kedua calon mempelai, terlebih dahulu calon mempelai wanita di mandikan dengan  jeruk, tradisi disebut malimo, atau belimau,dimasa lalu malimo atau belimau dilaksanakan di air pancuran atau di sungai bebatuan yang airnya mengalir bening.  Jelang pelaksanaan pernikahan, berbagai persiapan dilaksanakan di rumah calon mempelai wanita, dimasa lalu  masyarakat suku Kerinci melansungkan acara  pernikahan pada malam hari setelah shalat Isya.  Dikalangan keluarga Kerinci setelah   pernikahan dilaksanakan dilanjutkan dengan acara peresmian dan mempelai pria lansung tinggal menetap di rumah mempelai wanita dan tradisi ini disebut ‘Tegeak Dudeouk” artinya semua rangkaian acara pernikahan dan peresmian digabung menjadi satu.  Tak jarang ditemui juga setelah acara pernikahan  dilansungkan , untuk acara  peresmian  di tunda untuk   beberapa waktu, tradisi ini disebut nunggu buleang cayea, artinya menunggu kesempatan baik atau menunggu segala persiapan terpenuhi. (Bersambung.....)

Bagikan Berita :

Posting Komentar

 
Cyber Media Petisinews.com : Tentang Kami | Redaksional | Tarif Iklan
Copyright © 2015. Petisinews.com - Kritis Profesional
Dipublikasikan oleh CV. ADZAN BANGUN PERSADA Cyber Media Petisi News
Wartawan Petisinews.com Dibekali Tanda Pengenal dalam Menjalankan Tugas Redaksi | Box Redaksi