Home » , » Desa Wisata Hiang Tinggi, oleh: Budi VJ dan Aditya Maha Putra

Desa Wisata Hiang Tinggi, oleh: Budi VJ dan Aditya Maha Putra

Ditulis oleh Petisi News pada Senin, 31 Agustus 2015

Alam Kerinci dikenal secara luas oleh para ilmuawan sebagai salah satu pusat peradaban tertua yang ada di dunia, dilain pihak alam Kerinci memiliki sejuta pesona wisata alam. Salah satu pusat peradaban dan kebudayaan masyarakat suku Kerinci berada di Wilayah Adat Hiang Tinggi Kecamatan Sitijau Laut Penulis Budhi Vj Rio Temenggung bersama Aditya Maha Putra dan Mahasiswi STKS Bandung Nurul Anggraini Pratiwi pekan lalu mengunjungi Desa Wisata Hiang Tinggi Kecamatan Sitinjau Laut Kabupaten Kerinci. Hasil kunjungan dirangkum dalam tulisan ini Bukti-bukti ditemukan itu dibenarkan oleh Dr.Bener Bron serjana Kesenian berkebangsaan Amerika dalam penelitiannya tahun 1973, bahkan beliau berkata, Kerinci sudah terkenal didunia. Karena bukti sejarahnya yang tua,kemudian diperkuat pula oleh hasil penelitian Mr.Bill Watson, sarjana kebangsaan Inggris dalam penelitian tahun 1975. Dari bukti ditemukan itu dapat dikemukakan bahwa suku bangsa Kerinci dilihat dari antroplogi fisik adalah melayu tua. Sedangkan bukti kebudayaan menurut antroplogi budaya mereka telah melalui zaman Mezolitikum (Zaman batu Menengah) yang dioperkirakan 400 tahun sebelum nabi Isya. Selain itu, Kerinci telah memiliki tulisan yang dinamakan Incung terdapat pada gading gajah di Hiang,tanduk kambing, yang menceritakan asal usul orang Kerinci, mengenai adat istiadat, batas wilayah. Selain itu bangsa Melayu Tua lebih senang didataran tinggi, yang pada umumnya adalah rakyat pegunungan.

Punden berundak ( Makam Nenek Moyang) Suku Kerinci sejak zaman prasejarah dikenal sebagai masyarakat yang sangat menghargai roh roh nenek moyang,dan didalam Kota Sungai Penuh terdapat makam (Kuburan dan Jirat) kuno yang diyakini sebagai makam nenek moyang, dan di Hiang Tinggi terdapat 1 buah Punden berundak yang masih di pelihara dengan baik oleh masyarakat adat di wilayah Hiang Tinggi Kecamatan Sintinjau Laut-Kerinci.

Pulo Negeri di dalam dusun-dusun tradisional di alam Kerinci termasuk di wilayah adat Hiang terdapat ”Pulo Neghoi” (Pulau negeri,Pen) merupakan bangunan batu alam tegak yang berada ditengah tengah dusun,konon pada masa lalu dikawasan Pulo Neghoi dimanfaatkan untuk kegiatan upacara ritual’tari asyek,dan sejak masuknya agama Islam upacara ritual “tari asyek” secara perlahan lahan mengalami pergeseran, karena dipandang tidak sesuai dengan ajaran dan kebudayaan agama IslamBangunan lain yang terdapat di dalam dusun dusun tradisional adalah”makam nenek moyang atau Jirat Nenek.

Pusaka Pedandan Masyarakat suku Kerinci termasuk masyaraat di adat di Hiang Tinggi sangat menghormati nenek moyang, karena rasa hormat dan cinta kepada para nenek moyang, masyakat suku Kerinci hingga saat ini masih menyimpan benda benda peninggalan nenek moyang Peninggalan peninggalan nenek moyang mereka jadikan sebagai benda pusaka yang mereka sakral,mereka keramatkan dan mereka simpan jauh dari jangkauan dan hanya di keluarkan pada saat acara ritual kenduri pusaka.Pada umumnya benda pusaka yang mereka sebut Pusaka Pedandan merupakan benda benda yang memiliki nilai bersejarah.

Rumah adat Di wilayah adat Hiang Tinggi saat ini terdapat rumah adat depati Atur Bumi Hiang dalam kondisi yang terbengkalai, kehadiran rumah adat ini diharapkan dapat menjadi tempat pertemuan para pemangku pemangku adat di Hiang Tinggi dan Sekitarnya,namun sayangnya lebih 10 tahun bangunan rumah adat berlantai dua ini masih terbengkalai.

Taman Tujuh ( Telaga Purba) Satu satu daerah ketinggian yang memiliki 7 Telaga , hanya ada di wilayah Adat Hiang Tinggi, air telaga taman tujuh ini pada musium kemarau tidakpernah kering, namun sayangnya Telaga Taman Tujuh ini tidak terawat dengan baik, telaga ini memiliki hubungan yang erat dengan kehadiran nenek moyang orang suku Kerinci,masyarakat di alam Kerinci menyebut telaga ini dnegan nama Taman Tujuh yang berada di atas ketinggian Bukit Hiang Tinggi, meski diatas ketinggian bukit 7 buah telaga kecil yang selalu terisi air bening,dan dari ketinggian bukit taman tujuh pengunjung dapat menyaksikan panorama alam Kerinci yang dikelilingi bukit barisan dengan hamparan padi yang menghijau ibarat permadani alam yang selalu terbentang luas sesayup mata memandang.

Upacara Kenduri Padi Masyarakat suku Kerinci sangat menghormati dan memuliakan arwah nenek moyang, dan hingga saat ini benda benda pusaka peninggalan nenek moyang masih dirawat dengan baik oleh masyarakat adat di wilayah kesatuan adat/luhah masing masing, sebuah catatan menuyebutkan dikalangan masyarakat suku Kerinci dimasa lalu kepercayaan terhadap tumbuh tumbuhan (padi) masih bertahan di beberapa dusun di alam Kerinci Tanaman padi oleh masyarakat suku Kerinci sangat di hormati dan disanjung, karena padi mempunyai nilai semangat, dan kepercayaan terhadap pohon besar yang dikawal “Penunggu” masih dipercayai oleh sekelompok masyarakat tradisional yang ada di pelosok dusun,sehingga tak seorangpun yang berani menganggu apalagi mencabutnya Dalam komunitas masyarakat suku Kerinci dikenal banyak memiliki upacara upacara tradisional seperti upacara minta ahei hujeang, upacara kumou (kesawah), upacara ngayun luci,upacara nanak ulu tahun.akan tetapi dewasa ini upcara upacara tradisional itu semakin lenyap ditelan gemuruh perkembangan kemajuan zaman. Didaerah alam Kerinci hingga saat ini masih dapat ditemui beberapa upacara tradisional seperti nanak ulu taung (tahun), upacara kumou (kesawah), upacara tari asyeak, dll. Di dusun /desa Hiang Kecamatan Sitinjau Kabupaten Kerinci khususnya di Hiang Tinggi ,Hiang Betung masih berkembang sebuah upacara tradisi yang disebut dengan “Kenduhei Padoi (Kenduri Padi) Masyarakat Hiang Tinggi dan Hiang Betung Kuning hingga saat ini masih melaksanakan upacara ritual yakni “Kenduhei Padoi” atau kenduri Padi yang dilaksanakan masyarakat tani dan dihadiri para pemangku adat, ulama, dan segenap masyarakat Upacara ini diawali dengan perno adat dan dilanjutkan dengan kenduri padi dengan menyiapkan jambea yang terdiri dari beraneka tanaman dedauanan seperti Daun sedingin, buah kundur, kunyit melai, jerangau, sekumpei, cakarawan (cekehaa) daun pinang masak, kelopak/pelepah batang pisang dingin, ulu nasi, ulu gulai, jJelawang pandan, jelawang mandi, jelawang manjang, jelawang mas dan kemenyan yang dibakar didalam mangkuk tempat pembakaran/pengasapan. Seminggu sebelum acara Kenduhei Padoi(Kenduri Padi) dilaksanakan, para tetua adat (Depati/Ninik Mamak) menyampaikan pengumuman kepada masyarakat tentang pelaksanaan Kenduri Padi, dimasa lalu pengumuman dilaksanakan dengan menggunakan canang yang di bunyikan di setiap lahek/luhah di dalam dusun sambil mengumumkan kepada anak jantan /anak betino dalam laheik jajou untuk berkumpul didalam rumah adat (umouh gdeang) atau di dalam mesjid untuk mengadakan acara kenduri padi. Mula hari itu kaum wanita dan anak anak gadis sibuk menyiapkan sajian atau aneka bunga bunga yang di butuhkan, untuk mengambil daun daunan beraneka jenis tanaman seperti jerangau, sedingin,kunyit melai,dll terkadang masyarakat harus masuk kedalam hutan belantara Semua kelengkapan sajian seperti kundur dipotong dan disusun dalam mangkok atau baskom ukuran sedang dan diatas irisan buah kundur ditata aneka dedaunan yang telah dipersiapkan termasuk kunyit melai,sedingin,dll. Sajian berupa aneka dedaunan dan buah kundur yang telah disusun rapi dalam mangkok/baskom dibawa kedalam rumah adat atau kedalam masjid, sajian yang dibawa oleh masing masing tumbi itu diletakkan ditengah tengah ruangan, dan masyarakat duduk bersila mengitari ruangan. Upacara kenduri padoi dimulai dengan perno(pno) yang disampaikan oleh pemangku adat dan disaksikan oleh para tokoh masyarakat,alim ulama,cerdik pandai dan masyarakat yang ada di dalam laheik jajou atau yang ada luhah masing masing,usai perno adat dilanjutkan dengan doa dan makan bersama . Setelah acara selesai dilaksanakan, sajian dibawa pulang kerumah masing masing, biasanya sajian yang telah di persiapkan akan di hamburkan/ditaburkan di lokasi lahan sawah muara air dan sebagian ditanam di pintu air masuk kesawah Pada dasarnya penyelenggaraan itu bertujuan meminta keselamatan,memohon kesuburan,memohon kesadaran untuk berbuat adil.(wawancara Depati Nazaruddin Said dan Mukhtaruddin warga Hiang Tinggi dan Betung Kuning: Juni: 2014)memohon keselamatan dimaksud karena pada waktu mengolah lahan hingga menuai padi menggunakan alat benda logam seperti cangkul,parang,sabit,dll. Dengan acara ini diharapkan Allah.SWT.dan dengan karomah nenek moyang akan memberikan perlindungan dan keselamatan kepada para petani, selain itu apa bila berada disawah akan terlindungi dari marabahaya seperti digigit ular berbisa, kalajengking atau disambar petir saat bekerja dilahan sawah. Memohon kesuburan, melalui kegiatan kenduri padi ini diharapkan agar padi yang ditanah tumbuh subur dan pada waktu panen akan menghasilkan hasil yang melimpah,dan tanaman padi bebas dari ganguan hama,tikus dan bencana. Sedangkan memohon kesadaran berbuat adil dimaksud, pada umumnya petak jenjang jenjang sawah biasanya merupakan lahan warisan yang diwariskan secara turun temurun atau lazim disebut sawah gilir ganti yang sudah diatur sesuai dengan ketentuan adat,dengan adanya acara tersebut diharapkan apabila sudah menuai padi tidak terjadi silang sengketa,percekcokan atau rasa tamak diantara merek.

Tradisi Embang dan Bapenteh Diwilayah adat Hiang Kecamatan Sitinjau Laut,sebelum pelaksanaan pernikahan dikenal dengan peran embang yang berperan sebagai orang yang berjalan dulu selangkah berkata dulu sepatah yang mewakili keluarga pihak calon pengantin pria dan wanita.Embang berperan sebagai fasilitator yang berperan untuk mempertemukan kesaling pahaman antara kedua belah pihak calon. pengantin dan keluarganya.Dalam proses perjodohan embang memiliki kesamaan peran sebagai tengganai yang mewakili masing masing keluarga untuk mempertemukan dan menyatukan dua hati sejoli, Setelah diperoleh kesepakatan dari masing masing pihak keluarga dan calon pengantin, maka dilanjutkan dengan prosesi perjodohan(pernikahan) Pada prosesi acara akad nikah di kediaman orang tua calon mempelai wanita,kedua embang dipanggil oleh orang adat untuk didengar pendapat dan keterangannya dihadapan para Depati Ninik mamak dan undangan berkenaan dengan Sko Purbokalo (mahar) yang diminta oleh calon mempelai wanita. Di lain pihak pemuka adat (Depati/Ninik Mamak) dan keluarga masing masing calon mempelai akan menitip petaruhkan kedua pasangan calon pengantin kepada embang untuk mengawasi dan membimbing kedua mempelai mulai sebelum pernikahan hingga pasca pernikahan, dan manakala dalam perjalan kehidupan rumah tangga terjadi silang sengketa antara kedua pasangan suami-istri maka embang pulalah yang mendamaikan dan menyelesaikan sebelum sampai ketingkat Depati / Ninik Mamak. Sebelum pernikahan dilaksanakan dikalangan masyarakat Hiang Kecamatan Sitinjau Laut Kabupaten Kerinci hingga saat ini masih mempertahankan tradisi bapenteh yakni tradisi menghiasi rumah calon pengantin dengan menggunakan aneka kain batik (kain panjang) yang dijalin dalam satu rangkaian ikatan jalinan panjang . Sebelum prosesi akad nikah dilaksanakan di kediaman orang tua calon mempelai, masing masing keluarga dari pihak calon pengantin wanita dan pria secara bersama sama membawa kain yang dikumpulkan dikediaman calon mempelai wanita, biasanya kegiatan ini dilaksanakan 5 - 7 hari sebelum pelaksanaan akad nikah, dan penteh (jalinan kain) akan di buka kembali setelah 7 hari pernikahan selesai di laksanakan Bagi masyarakat di wilayah adat Hiang khususnya di Hiang Tinggi –Betung Kuning dan sekitarnya tradisi bapenteh telah menjadi tradisi yang membudaya, setiap keluarga calon pengantin terutama calon mempelai wanita dlarang menggunakan pelaminan dari daerah lain, jika terjadi pelanggaran akan dikenakan sangsi hukum adat. Tradisi bapenteh ini mengandung makna silaturahmi dari masing masing keluarga kedua belah pihak calon pengantin dan pemasangan kain dengan jalinan jalinan kain yang indah dengan beragam corak dan warna kain kain batik sebagai dekorasi rumah melambangkan jalinan cinta dan kasih yang tak pernah terputus Sebelum pelaksanaan akad nikah di wilayah adat Nenek 5 Desa Hiang Tinggi dan Nenek 4 Desa Betung Kuning terlebih dahulu dilakanakan pendahuluan pno perkawinan.

Pergelaran seni dan budaya dalam pesta turun mandi Pergelaran seni budaya pesta turun mandi (mandi kayei), bagi bayi yang telah berumur ±1minggu.Pesta turun ke air ini dikuti dengan kesenian sikir rebana, barzanji dan kenduri makan bersama dengan mengundang sanak famili dan Depati Ninik Mamak dalam dusun (kampung). Turun ke air si bayi digendong oleh ibunya,biasa ke pinggir sungai dengan arakan tim rebana yang melagukan salawat Nabi, zaman dahulu juga didendangkan oleh seorang tua syair Hasan dan Husen dengan lantunan lagu berbahasa Kerinci. Tradisi upacara turun mandi hingga saat ini masih dipertahankan oleh masyarakat adat Nenek Empat Betung Kuning –Hiang Kecamatan Sitinjau Laut, Pengamatan pada acara turun mandi cucu pertama Rajo Depati Betung Kuning tradisi turun mandi masih berlansung secara adat dan sangat kental dengan tradisi ke Islaman. Bayi laki laki yang baru berusia 1 minggu untuk pertama kali dibawa turun mandi ke air bersama kedua orang tua, karib kerabat dan sejumlah pemangku adat. Pada malam hari setelah shalat Isya dilaksanakan acara kenduri aqiqah sekaligus pemberian dan peresmian nama kepada bayi yang baru berumur 1 minggu. Sebelum acara pemberian nama dilaksanakan terlebih dahulu dilaksanakan acara berzanzi yang diikuti para tokoh tokoh adat,para depati dan pemangku adat, aparat pemerintahan desa para tetangga dan karib kerabat. Setelah dilaksanakan acara barzanzi dlanjutkan dengan prosesi adat diantaranya pno adat yang disampaikan oleh tengganai dan salah seorang pemangku adat/tokoh masyarakat desa betung kuning. Sebelum dilaksanakan pno adat bayi yang baru berumur 1 minggu di gendong ayahanda mengelilngi para tamu yang tegak berdiri, dengan tetap mengumandangkan keagungan Illahi, satu persatu para tamu diminta untuk menggunting beberapa helai rambut bayi ,acara ini lazim di sebut mencukur rambut bayi. Acara turun mandi dan pemberian nama / peresmian nama kepada bayi dirangkaikan dengan kenduri aqiqah, acara dilanjutkan dengan pembacaan tahlil .zikir dan do’a yang dipimpin salah seorang ulama terkemuka,setelah pembacaan doa dilanjutkan dengan acara makan bersama . Tarian dilakukan pada saat meresmikan nama dan turun ke air bayi yang baru dilahirkan. Biasanya pada turun ke air itu anak diberi nama dengan nama yang baik. Setelah diberi nama dan obat sang anak diletakkan kemudian dikelilingi dengan tarian oleh kaum wanita, penari-penari itu disebut bilan salih,Syair yang dilantunkan mengiringi tari dinamakan nyaho. Nyaho ini merupakan seruan kepada Yang Maha Kuasa agar bayi yang dimandikan kelak diberi keselamatan umur panjang, rezki murah dan menjadi anak yang saleh.Mereka menari sambil berdendang dengan memuji muji mengharapkan agar anak hidup subur dan sehat

Pencak Silat Pencak Silat meruppakan salah satu seni olah raga bela diri yang dilakkukan oleh 2-3 orang hulubalang, di Hiang Tinggi Tradisi Pencak silat dilakukan oleh dua orang pria tangguh yang menggunakan masing masing sebilah pedang dan salah seorang dari pesilat memiliki Pisau yang terselip di pinggang Pada saat ini tradisi bersilat dilakunakan pada saat acara kenduri sko atau pada saat kedatangan tamu agung (Pejabat Pusat atau Pejabat Daerah )

Tari Persembahan Gerak gerik tari tradisi Kerinci tergambar dalam tari ini persembahan yang di persembahkan pada saat kedatangan tamu kehormatan , para penaro dengan gemilai dan penuh rasa hormat dan dengan segenap keramah tamahan bersama masyarakat adat di desa Hiang Tinggo menyambut kadatangan tamu kehormatan Pepatah, petitih dari para depati serta persembahan sirih nan sekapur, rokok nan sebatang yang menyatakan keikhlasan dan ketulusan masyarakat Kerinci menerima tamu dalam arti kata putih kapas dapat dilihat putih hati berkenyataan.

Kesenian Seruling Bambu Kesenian suling bambu tergolong alat musik masyarakat yang ada di alam Kerinci termasuk didaerah Hiang Tinggi dan sekitarnya , Pengamatan di wilayah adat nenek limo dan nenek empat Hiang, beberapa orang pengembala memainkan seruling bambu sambil mengawasi hewan ternak yang di gembalakan atau tengah beristirahat di Sawah menjelang mereka pulang.

Hutan Adat Nenek Limo dan Nenek empat Hiang Di Kecamatan Sitinjau Laut terdapat ratusan hektar kawasan Hutan adat yang masih perawan dan merupakan sumber mata air bening yang mampu mengairi ribuan hektar areal persawahan masyarakat di bagian Kerinci Hilir. Hutan adat di daerah Hiang ini menyimpan beraneka ragam jenis flora dan dihuni ratusan jenis fauna termasuk Harimau Sumatera, Beruang,dan puluhan jenis burung burung langka. Didalam kawasan Hutan ini terdapat beberapa buah air terjun dan puluhan anak anak sungai yang airnya mengalir bening, suasana hening dan panorama alam yang menawan merupakan sebuah potensi besar untuk pengembangan wisata alam, dan kawasan hutan adat ini telah diakui secara nasional, dan pada tahun 2005 yang lalu hutan adat ini mendapat penghargaan dari Presiden sebagai penerima Kalpataru.

Air terjun serujung angin Objek wisata ini terletak arah timur di Desa Hiang Kecamatan Sitinjau Laut. Dari Desa Hiang kira-kira ± 8 KM dari Kota Sungaipenuh. Wisatawan dapat menempuh jalan antara Desa Hiang dengan Desa Pungut ± 3 KM yang dapat dilalui dengan kendaraan roda dua dan roda empat sejauh 7 KM dengan jalan kaki melalui jalan setapak/jalan menuju ladang dan menelusuri sungai. Air Terjun Sirujung Angin ini terdiri dari tiga tingkat, pada tingkat pertama dan kedua terdapat air terjun bertinggian 10 – 13 M sedangkan tingkat yang ketiga berketinggian ± 80 M. Bagi pencinta alam olah raga panjat tebing kawasan tersebut sangat cocok untuk olahraga tersebut. Selain itu diperjalanan menuju air terjun pertama kita akan menemui batu yang saling berhimpitan yang membentuk goa dan dapat menampung 10 orang dewasa untuk masuk luasnya ± 2,5 X 3 M dengan ketinggian pintu masuki 90 CM lebar 90 CM. Agro Wisata Kebun Duria Kawasan perladangan di Hiang Tinggi yang berbatasan dengan hutan adat merupaka kebun durian lokal yang berkualitas, pada musium buah buahan, durian Hiang dipasarkan ke pasar pasar tradisional yang ada di Balai Hiang dan sekitarnya Durian Hiang Tinggi memiliki rasa manis dan aroma yang khas dan sangat di minati oleh para wisatawan domestik maupun mancanegara. (*)
Bagikan Berita :

Posting Komentar

 
Cyber Media Petisinews.com : Tentang Kami | Redaksional | Tarif Iklan
Copyright © 2015. Petisinews.com - Kritis Profesional
Dipublikasikan oleh CV. ADZAN BANGUN PERSADA Cyber Media Petisi News
Wartawan Petisinews.com Dibekali Tanda Pengenal dalam Menjalankan Tugas Redaksi | Box Redaksi