Home » , » Mengenal Tradisi Mbang dan Bapenteh di Hiang

Mengenal Tradisi Mbang dan Bapenteh di Hiang

Ditulis oleh Petisi News pada Senin, 26 Oktober 2015

Petisinews.com - Di wilayah adat Hiang, Kecamatan Sitinjau Laut, sebelum pelaksanaan pernikahan dikenal dengan adanya Mbang yang berperan sebagai orang yang berjalan dulu selangkah, berkata dulu sepatah, yang mewakili keluarga pihak calon pengantin pria dan wanita. Lalu apa sebenarnya tugas Mbang?

Mbang berperan sebagai fasilitator 'makcomblang' yang berperan untuk mempertemukan kesalingpahaman antara kedua belah pihak calon pengantin dan keluarganya. 

Dalam proses perjodohan, Mbang memiliki kesamaan peran sebagai Tengganai yang mewakili masing-masing keluarga untuk mempertemukan dan menyatukan dua hati sejoli. 

Setelah diperoleh kesepakatan dari masing-masing pihak keluarga dan calon pengantin, maka dilanjutkan dengan prosesi perjodohan (pernikahan). 

Pada prosesi acara akad nikah di kediaman orang tua calon mempelai wanita, kedua Mbang dipanggil oleh orang adat untuk didengar pendapat dan keterangannya dihadapan para Depati Ninik Mamak dan undangan berkenaan dengan Sko Purbokalo (mahar) yang diminta oleh calon mempelai wanita. 

Di lain pihak pemuka adat (Depati Ninik Mamak) dan keluarga masing-masing calon mempelai akan 'menitip' kedua pasangan calon pengantin kepada Mbang untuk diawasi dan membimbing mulai sebelum pernikahan hingga pasca pernikahan. 

Manakala dalam perjalan kehidupan rumah tangga terjadi silang sengketa antara kedua pasangan suami-istri maka Mbang pulalah yang mendamaikan dan menyelesaikan sebelum sampai ketingkat Depati Ninik Mamak. 

Selain itu, sebelum pernikahan dilaksanakan dikalangan masyarakat Hiang hingga saat ini masih mempertahankan tradisi Bapenteh yakni tradisi menghiasi rumah calon pengantin dengan menggunakan aneka kain batik (kain panjang) yang dijalin dalam satu rangkaian ikatan jalinan panjang. 

Sebelum prosesi akad nikah dilaksanakan di kediaman orang tua calon mempelai, masing-masing keluarga dari pihak calon pengantin wanita dan pria secara bersama-sama membawa kain yang dikumpulkan dikediaman calon mempelai wanita, biasanya kegiatan ini dilaksanakan 5 - 7 hari sebelum pelaksanaan akad nikah, dan penteh (jalinan kain) akan dibuka kembali setelah 7 hari pernikahan selesai dilaksanakan. 

Bagi masyarakat di wilayah adat Hiang khususnya di Hiang Tinggi-Betung Kuning dan sekitarnya tradisi bapenteh telah menjadi tradisi yang membudaya, setiap keluarga calon pengantin terutama calon mempelai wanita dilarang menggunakan pelaminan dari daerah lain, jika terjadi pelanggaran akan dikenakan sangsi hukum adat. 

Tradisi bapenteh ini mengandung makna silaturahmi dari masing masing keluarga kedua belah pihak calon pengantin dan pemasangan kain dengan jalinan kain yang indah dengan beragam corak dan warna sebagai dekorasi rumah melambangkan jalinan cinta dan kasih yang tak pernah terputus. (Budhi VJ)

Bagikan Berita :

Posting Komentar

 
Cyber Media Petisinews.com : Tentang Kami | Redaksional | Tarif Iklan
Copyright © 2015. Petisinews.com - Kritis Profesional
Dipublikasikan oleh CV. ADZAN BANGUN PERSADA Cyber Media Petisi News
Wartawan Petisinews.com Dibekali Tanda Pengenal dalam Menjalankan Tugas Redaksi | Box Redaksi